Inggit Garnasih dan Kisah Sukarno dengan Gadis Belanda

banner 468x60
banner 160x600

Malam sudah lama turun. Bandung semakin sunyi dan dingin. Namun di dalam rumah besar itu, lampu masih menyala. Pemuda gagah itu mendekat dan semakin mendekat.

"Aku mencintaimu," bisiknya lembut ke wanita yang ada di dekatnya. Wanita yang usianya belasan tahun lebih tua dari pemuda itu tidak menjawab. Ia hanya menahan napas, menahan perasaan yang sama. Tak banyak kata-kata.

Sadar apa yang telah terjadi nyonya rumah bernama Inggit Garnasih  itu melepaskan diri dari Sukarno. Ia menyibukkan diri dan melihat wajah ketidakpuasan pemuda itu.

Di suatu malam peristiwa itu kembali terulang. Kali ini, sang pemuda itu tidak hanya menyatakan cinta, tapi juga mengajukan untuk melamar Inggit.

Dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Sukarno mengungkapkan, malam itu ia mendapat jawaban sempurna. Inggit membalas cintanya.

"Apakah kita tidak menghadapi kesulitan?" tanya Sukarno.

"Tidak, aku akan bicara dengan Sanusi besok," jawab Inggit.

Sanusi atau Haji Sanusi adalah suami Inggit. Ia seorang saudagar dan juga aktivis Sarekat Islam (SI) di Bandung. Antara Inggit dan suaminya, usia mereka jauh berbeda.

Sukarno tinggal di rumah pasangan Sanusi dan Inggit di Jalan Kebon Jati Bandung, saat menempuh pendidikan teknik tinggi Bandung (sekarang ITB).

Pada buku yang ditulis Cindy Adams itu, Sukarno mengaku sejak pertama tiba di rumah itu, sudah merasa menemukan keberuntungan.

"Keberuntungan utama itu sedang berdiri di pintu masuk dalam suasana setengah gelap dibingkai lingkaran cahaya dari belakang. Dia memiliki bentuk tubuh yang kecil, dengan sekuntum bunga merah menyolok di sanggulnya dan sebuah senyuman yang mempesona," ungkap Sukarno.

 

Source:http://news.liputan6.com/read/2524135/inggit-garnasih-dan-kisah-sukarno-dengan-gadis-belanda

Category: Politik, Uncategorized
Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Inggit Garnasih dan Kisah Sukarno dengan Gadis Belanda"