Seberapa Besar Keimanan & Ketaqwaanmu ?

0 504
banner 468x60
banner 160x600

Hadist{Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: "Bunuhlah dirimu

(sendiri) atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu", niscaya mereka tidak akan

melakukannya kecuali (hanya) sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau

mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang

demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan iman mereka, dan kalau

demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti

Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.} [An-Nisā’: 66-68]

 

 

Pada bagian dari Sūrat An-Nisa ini, setelah menelanjangi orang munafik dan keinginan

mereka untuk merujuk hukum thāghūt (hukum/UU buatan manusia) daripada Kitabullah dan

Rasul-nya,. Allah SWT berfirman bahwa jika Dia telah memerintahkan mereka untuk

membunuh diri mereka sendiri sebagai penebusan dosa karena telah menyekutukan Allah dalam

hokum, seperti Allah SWT telah memerintahkan kaum Mūsā AS untuk saling membunuh

sebagai penebusan dosa karena menyekutukan Allah SWT dengan menyembah anak sapi, para

munāfiq tidak akan melakukannya kecuali hanya sedikit dari mereka. Dalam tafsīr dari Firman

Allah SWT,

“Dan sesungguhnya jika Kami perintahkan kepada mereka: "Bunuhlah dirimu atau keluarlah

dari kampung halamanmu", niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil

dari mereka”,

Imām Ath-Thabarī menguraikan maknanya, dan jika Kami mewajibkan hal ini atas siapapun

yang mengaku beriman kepada apa yang telah diturunkan pada mereka, mereka yang merujuk

hukum thāghūt (hukum/UU buatan manusia), maka mereka harus membunuh diri mereka, dan

telah memerintahkan mereka dengannya, atau mereka harus meninggalkan negeri mereka.

Berpindah dari negeri itu ke negeri lainnya, mereka tidak akan melakukannya. Dia

mengatakan : “Mereka tidak akan membunuh diri mereka dengan tangan mereka atau hijrah

dari negeri mereka, pergi darinya menuju Allah dan Rasul-nya karena ketaatan kepada

Allah dan Rasul-nya, kecuali sedikit dari mereka.”

Ath-Thabarī lalu meriwayatkan bahwa Mujāhid RA (salah satu mufassirīn terkemuka dari

Tābi'īn) berkata bahwa jika mereka telah diperintahkan untuk membunuh diri mereka "seperti

pengikut Mūsā diperintahkan untuk saling membunuh dengan pisau belati,mereka tidak akan

melakukannya kecuali sedikit saja." (1)

Ath-Thabarī juga meriwayatkan bahwa as Suddī RA (muGfssirin Tābi'īn terkemuka lainnya)

berkata,"Tsābit bin Qais bin Syammās RA dan seorang pria yahudi berbangga [satu sama

lain]. Si Yahudi berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya Allah memerintahkan kami, : “Bunuhlah

dirimu,” maka kami membunuh diri kami". Maka Tsābit berkata, 'Demi Allah, jika perintah

“Bunuhlah dirimu”, ditetapkan atas kami, maka kami akan membunuh diri kami sendiri.'"

Menurut atsar lain yang disebutkan ath-Thabarī, ketika perkataan ini sampai kepada Nabi

SAW, Beliau bersabda, “Sungguh, dari umatku ada lelaki dengan īmān di hati mereka yang

tertanam lebih kuat daripada gunung yang mengakar kuat.”

Pelajaran yang terkandung dalam āyat ini begitu penting. Ayat ini berisi perbandingan tipis

antara syirik hukum, yang sekarang telah menyebar begitu luas di antara mereka yang

mengaku mengikuti Nabi Muhammad SAW, dan syirik dalam ibadah, yang meluas diantara

mereka yang mengaku mengikuti Nabi Mūsā SAW ketika mereka tiba-tiba menyembah sapi

emas. Allah SWT mengajarkan pada umat Islam bahwa berhukum pada thawāghīt tidak kalah

berat dalam kesyirikannya dibanding menyembah berhala, karenanya, tidak ada perbedaan

antara partai pro-demokrasi Islami yang merujuk hukum kepada puluhan atau ratusan pejabat

terpilih legislatif dengan musyrikīn Hindu yang langsung menyembah berhala yang tak

terhitung jumlahnya. Meski demikian, dengan rahmat Allah SWT, Dia tidak membebankan

pada umat kita cara penebusan dosa syirik sesulit yang Dia perintahkan kepada Banī Israil,

melainkan hanya mensyaratkan mereka yang jatuh dalam kesyirikan untuk meninggalkan

kesyirikan yang mereka lakukan serta bertaubat dengan ikhlas.

Selanjutnya, dengan menyatakan bahwahanya sedikit orang munāfiq yang akan mentaati-Nya

ketika Dia memerintahkan mereka untuk “membunuh diri mereka sendiri” atau “berhijrah”,

Allah menyingkap sifat munāfiqin yang bermanis mulut dalam agama tanpa benar-benar

memiliki ketaatan pada Rabb mereka. Karena itu, jika mereka dihadapkan dengan perintah

yang mengharuskan kesulitan dan pengorbanan luar biasa, mereka akan membuat-buat alasan

untuk diri mereka sendiri daripada mengikuti wahyu yang jelas. Ini memperkuat poin bahwa

hamba Allah yang sebenarnya adalah iayang tidak bertanya-tanya tentang hikmah dibalik

perintah-Nya atau ragu untuk melaksanakannya, tidak peduli sesulit apapun yang akan

dihadapi. Penting untuk dicatat bahwa banyak dari mereka yang mengklaim dirinya mengikuti

Allah dan Rasul-/ya merasa sulit untuk melakukan amalan baik hijrah atau yang lainnya murni

karena ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka mengklaim bahwa mereka harus

tahu hikmah di balik amal tersebut dan tidak diragukan lagi selalu ada hikmah dalam

semua ketetapan Allah SWT, tetapi ketika mereka tak bisa melihatnya, atau jika mereka percaya

bahwa hikmah ini tidak lagi berlaku di era modern atau untuk masyarakat mereka, maka

mereka mengabaikan amalan itu, mencegah dan mengejek mereka yang melakukannya,

bahkan memerangi Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, sembari masih mengaku sebagai Muslim.

Mereka yang melakukan hal ini terbagi menjadi berbagai tingkat. Ada yang lebih terang-

terangan dalam hal ini dan tanpa rasa malu menyatakan bahwa Syarī'at adalah "barbar," atau

tidak dapat diterapkan di zaman kita, dan ada mereka yang sedikit lebih bijak,termasuk

banyak dari orangorang yang berada di negeri kufur, menolak untuk berhijrah, dan membuat

segala macam alasan untuk menghindari kewajiban yang mulia ini.

Namun, hal ini tidak mengherankan ketika seseorang tahu bahwa pengorbanan dan kesulitan

dalam berhijrah begitu besar hingga Allah SWT menyebutkannya dalam āyat di atas

bersamaan dengan perintah untuk membunuh diri sendiri. Bahkan para Nabi SAW tidak

terbebas dari kesulitan hijrah, termasuk manusia terbaik, yang melakukan hijrah ke kota yang

sebagian penduduknya adalah kaum Yahudi dan kaum munāfiq pengkhianat dan dikelilingi

oleh suku-suku Badui yang saling bermusuhan setelah sebelumnya meninggalkan

perlindungan dari kabilah dan kerabatnya sendiri, menghadapi upaya pembunuhan, dan tinggal

di sebuah gua untuk beberapa hari. Pelaksanaan hijrah sering merupakan ujian berat bagi

īmān dan tawakkal seseorang, dan dengan demikian, ia mensyaratkan orang beriman untuk

mempersiapkan dirinya dengan memastikan bahwa ia siap untuk melaksanakan perintah Allah

SWT dengan ketundukan akan perintah-Nya, hanya sesederhana itu, bahkan jika ia tidak

memahami seluruh hikmah di balik itu.

 

Allah SWT berfirman, :

 

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai

sesuatu, padahal ia buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” [Al-

Baqarah: 216].

Selain itu, dapat kita ambil pelajaran dari riwayat Tsābit Ibnu Qais tadi bahwa orang beriman

harus menunjukkan kepercayaan diri di dalam keinginannya mentaati Allah SWT dan Rasul-

Nya dalam kondisi tersulit dan tidak menebak-nebak sendiri, bahkan ketika menghadapi kondisi

yang tidak menentu sekalipun. Hal itu tidak termasuk membanggakan diri jika disertai niat yang

benar, seperti untuk menunjukkan kemuliaan dan kekuatan di depan kuffār, seperti yang

dilakukan oleh Tsābit di depan Yahudi, atau untuk menyemangati diri di dalam ketaatan pada

Allahdan Rasul-Nya, dan bahkan makna yang lebih besar,dalam āyāt tersebut, Allah SWT

berfirman, :

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan

orangorang yang dianugerahi nikmat oleh Allah” [An-Nisa': 69].

 

Dan di āyāt sebelumnya, Allah SWT berfirman, :

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan untuk ditaati dengan izin Allah” [An-

Nisa' : 64].

Jadi,orang beriman harus menyadari tingkat ketaatannya pada Allah dan Rasul-Nya, dan

menyemangati dirinya dalam hal itu.

 

Mengenai Firman Allah SWT, :

“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan perintah yang diberikan kepada mereka,

tentulah hal itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan [iman mereka]” [An-Nisa':

66],

 

Ath-Thabarī menyebutkan bahwa as-Suddī menjelaskan "lebih menguatkan" berarti "lebih

kuat dalam tashdīq (pembenaran akan kebenaran) ." Ini tepat sekali, karena memang

seseorang dapat menetapkan kebenaran Islam dengan kata-katanya, tetapi jika hal ini tidak

didukung oleh amal mulia seperti hijrah maka ia seringkali hanyalah kata-kata pemanis mulut,

seperti yang telah disebutkan sebelumnya mengenai orang munāfiq.

 

Dengannya, Allah mengajarkan pada kita bahwa dengan melaksanakan amalan yang

diperintahkan - terutama yang sulit dan membutuhkan tingkat ketaatan dan pengorbanan yang

lebih tinggi - seorang Muslim lebih memperkuat pengakuan imannya. Karenanya, Allah

mengaruniakan kepadanya dua kenikmatan yang luar biasa, sebagaimana yang tertera di

dalam dua āyāt berikut:

“Dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami,

dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus” [An-Nisa': 67-68].

 

Semoga Allah menjadikan kita di antara mereka yang tidak menghindar dari melakukan

amal-amal yang berat sehingga membawa kita pada petunjuk dan ketundukkan pada jalan yang

lurus di dunia dan diikuti dengan ganjaran yang luar biasa di akhirat.

 

Footnotes :

(1) Ini berkaitan dengan Firman Allah SWT, :

“Dan ingatlah , ketika Mūsā berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu

telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu sembahanmu ,

maka bertaubatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu. Itu lebih baik bagimu di sisi

Penciptamu. Maka Dia akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima

taubat lagi Maha Penyayang” [Al-Baqarah: 54].

 

Ibnu 'Abbas RA meriwayatkan bahwa Mūsā AS menyampaikan pada kaumnya mengenai

erintah Allah bahwa mereka harus membunuh diri mereka sendiri, sehingga sebagian dari

mereka yang menyembah anak sapi tetap duduk, dan mereka yang tidak menyembah anak sapi

mengambil belati di tangan mereka. Kegelapan yang sangat menyelimuti mereka, dan mereka

mulai saling membunuh satu sama lain. Kegelapan kemudian menghilang dan mereka

mendapati 70.000 orang dari mereka telah terbunuh. Setiap dari mereka yang terbunuh

telah dimaafkan (dosanya), dan setiap dari mereka yang tersisa juga dimaafkan (dosanya) [Ath-

Thabari].

Penyunting:

Raja Copas Abu Jihad Muhammad al-Indunisiy

2016

Category: Opini
Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Seberapa Besar Keimanan & Ketaqwaanmu ?"