MEMANGGIL ORANG UNTUK SHALAT DENGAN MEMBUNYIKAN BEDUG ATAU LONCENG ATAU YANG LAINNYA

banner 468x60
banner 160x600

loncengBerdasarkan pemaparan panjang-lebar di atas mengenai awal-musabab munculnya perintah Adzan dalam memanggil orang-orang untuk shalat di Mesjid atau untuk menandakan telah masuknya waktu shalat Wajib, maka dengan dalil-dali berikut ini, mungkin Anda dapat menarik kesimpulan sendiri apakah memanggil orang-orang untuk shalat di Mesjid atau untuk menandakan telah masuknya waktu shalat Wajib dengan cara-cara lain selain Adzan, apakah termasuk diperbolehkan ataukah perbuatan yang sia-sia dan bahkan tergolong perbuatan Bid’ah ?

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [QS Al-Maa-idah: 3]

Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tegaskan:

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS Al-Hasyr: 7)

Dan berfirman :

Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)

Imam As Sa’dy mengatakan di dalam tafsirnya hal. 609,

“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik yaitu dari sisi di mana beliau menghadiri sendiri suara hiruk pikuk dan langsung terjun ke medan laga. Beliau adalah orang yang mulia dan pahlawan yang gagah berani. Lalu bagaimana kalian menjauhkan diri kalian dari perkara yang Rasulullah bersungguh-sungguh melaluinya seorang diri? Maka jadikanlah dia sebagai panutan kalian dalam perkara ini dan sebagainya.”

Kemudian dikatakan oleh Imam As Sa’dy:

“Suri teladan itu ada dua macam yaitu yang baik dan yang buruk. Suri teladan yang baik itu ada pada diri Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wassalam karena orang yang menjadikannya sebagai suri teladan, sungguh dia telah menempuh jalan yang akan menyampaikan kepada kemuliaan yang ada di sisi Allah. Itulah jalan yang lurus.

Adapun menjadikan selain Rasulullah sebagai suri teladan, apabila orang tersebut menyelisihi Beliau, maka itu adalah suri teladan yang jelek seperti ucapan orang musyrik ketika diseru untuk menjadikan Rasulullah sebagai suri teladan, mereka mengatakan: ‘Sesungguhnya kami telah menemukan bapak-bapak kami di atas satu ajaran dan kami di atas agama mereka mengikut.’ Suri teladan yang baik ini akan ditempuh dan akan mendapatkan taufiq atasnya, oleh orang-orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah dan kebahagiaan di hari akhir.

Yang mendorongnya untuk menjadikan Rasulullah sebagai suri teladan yang baik adalah iman, takut kepada Allah, berharap pahala dari-Nya, dan takut terhadap adzab-Nya.

Al Hafidz Ibnu Katsir, dalam tafsir 3/483, mengatakan:

 “Ayat ini merupakan landasan pokok menjadikan Rasulullah sebagai suri teladan dalam ucapan-ucapan beliau, perbuatan-perbuatan, dan dalam semua keadaan Beliau.

Keteladanan Rasulullah telah dinobatkan sendiri oleh Allah di dalam Al Qur’an. Ini menunjukkan kesempurnaan Rasulullah dari semua sisi kemanusiaan yang tidak dimiliki oleh selainnya, dahulu maupun sekarang.

Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Al Fawaid hal. 172 mengatakan:

Tatkala Rasulullah menampakkan sangat butuhnya beliau kepada Allah (beribadah), yang demikian itu menjadikan sangat butuhnya manusia kepadanya baik di dunia dan di akhirat. Kebutuhan mereka (manusia) di dunia (terhadap Rasulullah) jauh lebih penting dibandingkan dengan kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman, serta ruh yang merupakan kehidupan jasad. Adapun kebutuhan manusia kepada Rasulullah di akhirat yaitu ketika seluruh manusia di saat itu meminta kepada semua Rasul agar meminta kepada Allah syafa’at yang akan membebaskannya dari kedahsyatan hidup. Semua nabi di saat itu tidak sanggup untuk melakukan demikian. Lalu beliau -memberikan syafa’at kepada mereka dan dialah yang meminta agar dibukakan bagi mereka pintu surga.”

Mushthofa Al ‘Adawi dalam kitab beliau Fiqhul Akhlak 1/7 mengatakan:

Dan telah terhimpun pada diri Rasulullah sifat-sifat yang terpuji seperti malu, dermawan, pemberani, berwibawa, sambutan yang baik, lemah lembut, memuliakan anak yatim, baik batinnya, jujur dalam ucapan, menjaga diri dari perkara yang mendatangkan maksiat, suci, bersih, suci dirinya dan segala sifat-sifat yang baik”.

Aisyah RA ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah, beliau menjawab:

Akhlaknya adalah Al Qur’an.”

(HR. Muslim no. 746) *

* Inilah jawaban dari seorang shahabiyah yang faqih dan mengetahui secara jelas di hadapan matanya bagaimana Rasulullah berkata, berbuat, dan bertingkah laku, dikarenakan beliau adalah isteri Rasulullah. Jawaban yang sangat singkat dan mencakup segala perkara kebaikan di dalam agama ini.

 

Dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda,

"Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka."

(HR. Abu Dawud, Al-Libas, 3512. Al-Albany berkata dalam Shahih Abu Dawud, Hasan Shahih no. 3401)

 

Tidak diragukan lagi bahwa setiap bid’ah dalam agama adalah sesat dan haram, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara yang baru. Setiap perkara-perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

(HR. Abu Dawud (no. 4607), at-Tirmidzi (no. 2676), Ahmad (IV/46-47) dan Ibnu Majah (no. 42, 43, 44), dari Sahabat Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu anhu, hasan shahih)
Barangsiapa yang mengada-ngada dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak”

(HR. Al-Bukhari (no. 2697) dan Muslim (no. 1718), dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma)
Ibnu ‘Umar Rdadhiyallahu anhuma berkata:

“Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun manusia memandangnya baik.

(Riwayat al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 126), Ibnu Baththah al-‘Ukbari dalam al-Ibaanah (no. 205). Lihat ‘Ilmu Ushuulil Bid’ah (hal. 92))

Imam Sufyan ats-Tsaury rahimahullah (wafat th. 161 H) berkata:

“Perbuatan bid’ah lebih dicintai oleh iblis daripada kemaksiyatan dan pelaku kemaksiyatan masih mungkin ia untuk bertaubat dari kemaksiyatannya sedangkan pelaku kebid’ahan sulit untuk bertaubat dari kebid’ahannya.

(Riwayat al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (no. 238), Nama lengkap Imam Sufyan ats-Tsaury adalah Sufyan bin Sa’id bin Masruq ats-Tsauri, Abu ‘Ab-dillah al-Kufi, seorang hafizh yang tsiqah (terpercaya), faqih, ahli ibadah dan Imaamul hujjah. Beliau wafat tahun 161 H pada usia 64 tahun. Lihat biografi beliau dalam kitab Taqriibut Tahdziib (I/371))


Raja Copas Abu Jihad Muhammad al-Indunisiy

2016

Link address :

http://www.promutu.com/tentang-nabi-muhammad/kisah-nabi-muhammad-wafat-shahih-bukhari/

https://almanhaj.or.id/3424-setiap-perkara-baru-yang-tidak-ada-sebelumnya-di-dalam-agama-adalah-bidah.html

https://usahadawah.wordpress.com/2008/01/07/asal-muasal-adzan-dan-iqomat-melalui-mimpi-shahabat-dan-perihal-mimpi-maulana-ilyas/

http://www.sayangi.com/gayahidup1/read/24851/kisah-hidup-sang-pengumandang-adzan-pertama-di-dunia

https://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/24/sesungguhnya-pada-diri-rasulullah-ada-teladan-yang-baik-bagim/

Category: Pendidikan
Email Autoresponder indonesia
author
Seorang perjaka muda yang penuh dengan ambisi dan memiliki cita-cita menjadi seorang khilafah di muka bumi.
No Response

Leave a reply "MEMANGGIL ORANG UNTUK SHALAT DENGAN MEMBUNYIKAN BEDUG ATAU LONCENG ATAU YANG LAINNYA"