Kucing Dalam Pandangan Islam

0 422
banner 468x60
banner 160x600

kucing-aaaBandungcitytoday.com - Banyak di antara kita yang suka memelihara dan menyayangi kucing. Tahukah Anda bahwa Nabi Muhammad memiliki seekor kucing kesayangan yang Baginda namakan ‘Mueeza’?

 

Muezza adalah Nama Seekor Kucing Kesayangan Rasulullah SAW

Setiap kali Rasulullah menerima tamu di rumah, Baginda selalu menggendong kucingnya yang bernama Mueeza dan diletakkan di atas paha Baginda. Salah satu sifat Mueeza yang paling Rasulullah suka ialah Mueeza selalu mengiaw sewaktu mendengar azan, seolah-olah bunyi suaranya seperti mengikuti alunan suara azan tersebut.

Suatu saat Rasulullah hendak mengambil jubahnya, ternyata Muezza sedang tidur dengan santai di atas jubah Baginda. Oleh kerana tidak ingin mengganggu kucing kesayangannya itu, Rasulullah pun memotong lengan jubah Baginda yang dibaringi oleh Mueeza supaya tidak membangunkan Muezza.

Ketika Baginda pulang ke rumah, Muezza terbangun dan menundukkan kepala kepada tuannya. Rasulullah menunjukkan kasih sayangnya dengan mengusap lembut ke badan kucing itu.

 

Kucing Tidak Najis

Nabi menekankan bahwa kucing itu tidak najis. Bahkan dibenarkan untuk berwudhuk menggunakan air bekas minum kucing karena tidak najis.

Abu Qatadah Radliyallaahu ra berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Kucing itu tidak najis. Ia adalah termasuk hewan yang suka berkeliaran di rumah (hewan pemeliharaan).”

[HR At-Tirmidzi, An-Nasa’I, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah].

 

Diriwayatkan dan Ali bin Al-Hasan, dan Anas yang menceritakan bahawa Rasulullah pergi ke Bathhan suatu daerah di Madinah. Lalu, Baginda berkata,

“Ya Anas! Tuangkan air wudhuk untukku ke dalam bekas (wadah, pen).” Lalu, Anas menuangkan air. Ketika sudah selesai, Rasulullah menuju ke arah bekas tersebut.

Namun, seekor kucing datang dan menjilati bekas tersebut. Melihat itu, Rasulullah berhenti sehingga kucing tersebut berhenti minum lalu berwudhuk.

Rasulullah ditanya mengenai kejadian tersebut, Baginda menjawab, “Ya Anas! Kucing termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori sesuatu, malah tidak ada najis”.

[HR ……………..].

 

Diriwayatkan dari Dawud bin Shalih At-Tammar dan ibunya yang menerangkan bahwa budaknya memberikan Aisyah semangkuk bubur. Namun, ketika ia sampai di rumah Aisyah, tenyata Aisyah sedang mendirikan solat. Lalu, ia memberikan isyarat untuk meletakkannya.

Sayangnya, setelah Aisyah menyelesaikan shalat, ia terlupa pada buburnya. Datanglah seekor kucing, lalu memakan sedikit bubur tersebut. Ketika ia melihat bubur tersebut dimakan kucing, ‘Aisyah ra. membersihkan bagian yang disentuh kucing, dan Aisyah memakannya.

Rasulullah bersabda, “Ia tidak najis. Ia binatang yang berkeliaran di rumah”. Aisyah juga pernah melihat Rasulullah berwudhuk dari sisa jilatan kucing,

[Hadis Riwayat al-Baihaqi, Abd Al-Razzaq, dan Al-Daruquthni].

Hadist ini juga diriwayatkan dari Malik, Ahmad dan imam hadist yang lain. Oleh karena itu, kucing adalah binatang yang badan, peluh, dan bekas makanannya adalah suci.

 

Demikianlah kisah tentang kucing Nabi Muhammad yaitu Mueeza. Semoga dengan menghayati kisah di atas, kita akan ketahui betapa kasih dan sayangnya Rasulullah terhadap hewan.

Rasulullah berpesan supaya menyayangi kucing kesayangan sebagaimana kita menyayangi keluarga sendiri. Aisyah binti Abu Bakar As-Shiddiq, isteri Rasulullah juga amat menyayangi kucing dan berasa amat kehilangan jika ditinggal pergi oleh kucingnya. Beberapa orang terdekat Nabi turut memelihara kucing. Abdul Rahman bin Sakhr Al Azdi. diberi gelaran Abu Hurairah (bapak para kucing jantan), perawi hadits yang mashyur, karena kegemarannya menjaga dan memelihara berbagai jenis kucing jantan di rumahnya.

 

Hukum Bagi yang Menyakiti Kucing

Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah berat, dalam sebuah hadis sahih Al-Bukhari, dikisahkan seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan, Nabi SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah neraka.

Abdullah bin Umar ra. juga meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda :

“Seorang wanita disiksa karena mengurung kucing sampai mati. Kemudian wanita itu masuk neraka karenanya, yaitu karena ketika mengurungnya dia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum sebagaimana dia tidak juga melepasnya mencari makan dari serangga-serangga tanah” (HR Muslim.)”.

Dari Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seorang wanita dimasukkan kedalam neraka karena seekor kucing yang dia ikat dan tidak diberikan makan bahkan tidak diperkenankan makan binatang-binatang kecil yang ada di lantai”. (HR. Bukhari).

 

Penghormatan Para Tokoh Islam Terhadap Kucing

Pada abad ke-13, sebagai manifestasi penghargaan masyarakat Islam, rupa kucing dijadikan sebagai ukiran cincin para Khalifah, termasuk porselen, patung hingga mata uang. Bahkan di dunia sastra, para penyair tak ragu untuk membuat syair bagi kucing peliharaannya yang telah berjasa melindungi buku-buku mereka dari gigitan tikus dan serangga lainnya.

Dalam buku yang berjudul Cats of Cairo, pada masa dinasti Mamluk, Baybars Al Zahir, seorang Sultan yang juga pahlawan garis depan dalam Perang Salib sengaja membangun taman-taman khusus bagi kucing dan menyediakan berbagai jenis makanan di dalamnya. Tradisi ini telah menjadi adat istiadat di berbagai kota-kota besar negara Islam.

Hingga saat ini, mulai dari Damaskus, Istanbul, hingga Kairo, masih bisa kita jumpai kucing-kucing yang berkeliaran di pojok-pojok masjid tua dengan berbagai macam makanan yang disediakan oleh penduduk setempat.

Pengaruh Kucing Dalam Seni Islam

Pada abad 13, sebagai manifestasi penghargaan masyarakat islam, rupa kucing dijadikan sebagai ukiran cincin para khalifah, termasuk porselen, patung hingga mata uang. Bahkan di dunia sastra, para penyair tak ragu untuk membuat syair bagi kucing peliharaannya yang telah berjasa melindungi buku-buku mereka dari gigitan tikus dan serangga lainnya.

 

Kucing Yang Memberi Inspirasi Bagi Para Sufi

Seorang Sufi ternama bernama ibnu bashad yang hidup pada abad ke sepuluh Hijriyah bercerita, suatu saat ia dan sahabat-sahabatnya sedang duduk santai melepas lelah di atas atap masjid kota kairo sambil menikmati makan malam. Ketika seekor kucing melewatinya, Ibnu Bashad memberi sepotong daging kepada kucing itu, namun tak lama kemudian kucing itu balik lagi, setelah memberinya potongan yang ke dua, diam-diam Ibnu Bashad mengikuti kearah kucing itu pergi, hingga akhirnya ia sampai disebuah atap rumah kumuh, dan didapatinya si kucing tadi sedang menyodorkan sepotong daging yang diberikan Ibnu Bashad kepada kucing lain yang buta kedua matanya. Peristiwa ini sangat menyentuh hatinya hingga ia menjadi seorang sufi sampai ajal menjemputnya pada tahun 1067.

Selain itu, kaum sufi juga percaya, bahwa dengkuran nafas kucing memiliki irama yang sama dengan dzikir kalimah Allah.

Category: Pendidikan
Email Autoresponder indonesia
author
Seorang perjaka muda yang penuh dengan ambisi dan memiliki cita-cita menjadi seorang khilafah di muka bumi.
No Response

Leave a reply "Kucing Dalam Pandangan Islam"