Dibalik Larangan Styrofoam di Kota Bandung

0 911
banner 468x60
banner 160x600

 

stBCT, Bandung,- Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melarang penggunaan styrofoam untuk kemasan makanan dan minuman. Dasar pelarangan styrofoam adalah Peraturan Daerah (Perda) Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan. Serta Undang-undang nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan. Larangan penggunaan styrofoam dimulai sejak 1 November 2016.

Penggunaan styrofoam sebagai wadah makanan dan minuman semakin meningkat, seiring berkembangnya kreatifitas warga Bandung dalam mengolah makanan. Salah satu makanan yang menggunakan styrofoam sebagai wadahnya adalah Seblak.

Beberapa media memberitakan, alasan pelarangan styrofoam antara lain hasil penelitian Fitdiarini dan Damanhuri (2011) tentang Analisis Aliran Material Sampah styrofoam di Bandung, dari seluruh berat sampah styrofoam di Bandung, yaitu 27,02 ton/bulan. 2,67 persen tersimpan di toko-toko, 19,19 persen akan didaur ulang, 6,32 persen tercecer, dan 71,82 persen dibuang ke TPA Sarimukti.

Beberapa penelitian juga menunjukan bahwa styrofoam sangat membahayakan kesehatan manusia. Terbuat dari bahan kimia yang mengandung karsinogen sebagai salah satu penyebab penyakit kanker. Jika makanan yang masih panas dan berlemak dituangkan ke dalam styrofoam,  makanan tersebut dapat langsung terkontaminasi dengan zat berbahaya yang terkandung didalamnya.

Efek yang ditimbulkan akibat penggunaanya, sistem imun akan berkurang, sehingga seseorang akan mudah terinfeksi penyakit. Dan jangka panjangnya mengakibatkan penyakit kanker payudara dan kanker prostat.

Selain berdampak pada kesehatan styrofoam juga tidak ramah terhadap lingkungan. Karena tidak bisa diuraikan oleh alam, styrofoam akan menumpuk dan mencemari lingkungan. Semakin banyaknya penggunaan tak jarang sampah styrofoam juga dapat menghambat aliran sungai, sehingga menimbulkan masalah baru yaitu banjir.

Itulah yang melatarbelakangi Pemkot Bandung mengeluarkan kebijakan ini. Karena sangat membahayakan baik dari segi kesehatan, maupun lingkungan. Dan salah satu penyebab banjir yang terjadi di Kota Bandung.

Di Indonesia Bandung menjadi Kota pertama yang melarang penggunaannya. Sebelumnya, Kota New York di Amerika Serikat dan Kota Oxford di Inggris melakukan langkah ini.

Styrofoam memang sangat praktis sebagai wadah makanan. Hal ini menyebabkan penggunaan di Indonesia semakin hari semakin meningkat. Mulai dari pedagang kaki lima, sampai restoran menggunakan bahan ini untuk membungkus makanannya.

Tetapi dalam kenyataannya setelah sepuluh hari kebijakan ini berjalan masih ada oknum pedagang yang tetap nekad menggunakannya. Karena selain praktis harganya terbilang murah. Selain itu masih adanya persediaan styrofoam yang sudah terlanjur dibeli.

Pedagang mengeluhkan alternatif kemasan selain styrofoam.  Jika mengganti bungkus makanannya dengan cup plastik harganya lebih mahal. Satunya bisa mencapai Rp 500 sampai Rp 600 sedangkan harga  styrofoam hanya Rp 250.

Tetapi sebagian pedagang menerima keputusan tersebut dan mengikuti imbauannya untuk tidak lagi menggunakan styrofoam. Dan menggantinya dengan cup plastik meskipun harganya lebih mahal.

Lain halnya dengan konsumen, karena mereka mengetahui dampak yang ditimbulkan akibat penggunaannya rata-rata mendukung kebijakan ini. Dan berharap langkah nyata yang dilakukan pemerintah sehingga kebijakan ini tidak hanya menjadi wacana tetapi diikuti dengan aksi di lapangan.

Teknis pelaksanaannya, semua unsur pemerintahan sampai ke tingkat kelurahan dibantu komunitas dan sukarelawan, diwajibkan mensosialisasikan Surat Edaran. Selain itu media massa juga gencar memberitakan pelarangan penggunaan styrofoam. Bahkan Ridwan Kamil sendiri memberitahukan kepada warganya lewat akun media sosialnya.

Ridwan Kamil mengatakan, saat aturan diberlakukan ada pedagang yang masih membandel menggunakan kemasan styrofoam, pihaknya akan memberikan sanksi tiga tahap. Yakni, surat peringatan pertama, kedua dan ketiga. Jika masih membandel akan diberikan sanksi administratif atau perizinan.

Alternatif penggantinya, sebagai konsumen bisa membawa kotak makanan sendiri atau makan di tempat. Pedagang bisa menggunakan besek bambu, kemasan ini ramah lingkungan dan memiliki nilai estetika. Selain itu bisa menggunakan kertas karton yang tebal dan kertas nasi

Warga Bandung sudah saatnya memiliki peran membantu pemerintah mensosialisasikan tentang kebijakan pelarangan styrofoam ini ke pedagang-pedagang. memberi tahu dampak yang ditimbulkan akibat penggunannya. Supaya kebijakan pemerintah ini berjalan dengan efektif sesuai dengan yang diharapkan.

 

 Rina Marlina

Category: Opini, Pemerintah, Pendidikan
Email Autoresponder indonesia
author
Seorang perjaka muda yang penuh dengan ambisi dan memiliki cita-cita menjadi seorang khilafah di muka bumi.
No Response

Leave a reply "Dibalik Larangan Styrofoam di Kota Bandung"