APA ITU PERBUATAN BID’AH ?

0 362
banner 468x60
banner 160x600

BandungCityToday.com - Bid’ah adalah mengadakan sesuatu yang baru dalam urusan agama tanpa ada dalil atau contoh dari nabi dan para sahabatnya. Setiap bid’ah pasti berujung kepada kesesatan. Baik itu menambah-nambah syariat atau menguranginya setelah Allah sempurnakan syariat-Nya dalam aqur’an dan as-sunnah. Karena itu, bid’ah merupakan perbuatan yang dibenci dalam islam.
Mereka berkata (membantah), seperti diceritakan dalam Al-Quran :
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek-moyang kami." "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek-moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?."
[QS Al-Baqarah : 170]

“Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul." Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya." Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek-moyang mereka walaupun nenek-moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?.”
[QS Al-Maa-idah: 104]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang disembah oleh mereka[737]. Mereka tidak menyembah melainkan sebagaimana nenek moyang mereka menyembah dahulu. Dan sesungguhnya Kami pasti akan menyempurnakan dengan secukup-cukupnya pembalasan (terhadap) mereka dengan tidak dikurangi sedikitpun.”
[QS Huud: 109]

Dan juga dengan tegas berfiman :
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.”
[QS Al-Maa-idah: 3]

Bahkan dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah tegaskan:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.”
(QS Al-Hasyr: 7)

Dan berfirman :
“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.”
(QS Al-Ahzab: 21)

Imam As Sa’dy mengatakan di dalam tafsirnya hal. 609 (berkenaan dengan QS Al-Ahzab ayat 21, sbb :
“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik yaitu dari sisi di mana beliau menghadiri sendiri suara hiruk pikuk dan langsung terjun ke medan laga. Beliau adalah orang yang mulia dan pahlawan yang gagah berani. Lalu bagaimana kalian menjauhkan diri kalian dari perkara yang Rasulullah bersungguh-sungguh melaluinya seorang diri? Maka jadikanlah dia sebagai panutan kalian dalam perkara ini dan sebagainya.”

Kemudian dikatakan oleh Imam As Sa’dy:
“Suri teladan itu ada dua macam yaitu yang baik dan yang buruk. Suri teladan yang baik itu ada pada diri Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wassalam karena orang yang menjadikannya sebagai suri teladan, sungguh dia telah menempuh jalan yang akan menyampaikan kepada kemuliaan yang ada di sisi Allah. Itulah jalan yang lurus.
Adapun menjadikan selain Rasulullah sebagai suri teladan, apabila orang tersebut menyelisihi Beliau, maka itu adalah suri teladan yang jelek seperti ucapan orang musyrik ketika diseru untuk menjadikan Rasulullah sebagai suri teladan, mereka mengatakan: ‘Sesungguhnya kami telah menemukan bapak-bapak kami di atas satu ajaran dan kami di atas agama mereka mengikut.’ Suri teladan yang baik ini akan ditempuh dan akan mendapatkan taufiq atasnya, oleh orang-orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah dan kebahagiaan di hari akhir.
Yang mendorongnya untuk menjadikan Rasulullah sebagai suri teladan yang baik adalah iman, takut kepada Allah, berharap pahala dari-Nya, dan takut terhadap adzab-Nya.

Al Hafidz Ibnu Katsir, dalam tafsir 3/483, mengatakan:
“Ayat ini merupakan landasan pokok menjadikan Rasulullah sebagai suri teladan dalam ucapan-ucapan beliau, perbuatan-perbuatan, dan dalam semua keadaan Beliau.”
Keteladanan Rasulullah telah dinobatkan sendiri oleh Allah di dalam Al Qur’an. Ini menunjukkan kesempurnaan Rasulullah dari semua sisi kemanusiaan yang tidak dimiliki oleh selainnya, dahulu maupun sekarang.

Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Al Fawaid hal. 172 mengatakan:
“Tatkala Rasulullah menampakkan sangat butuhnya beliau kepada Allah (beribadah), yang demikian itu menjadikan sangat butuhnya manusia kepadanya baik di dunia dan di akhirat. Kebutuhan mereka (manusia) di dunia (terhadap Rasulullah) jauh lebih penting dibandingkan dengan kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman, serta ruh yang merupakan kehidupan jasad. Adapun kebutuhan manusia kepada Rasulullah di akhirat yaitu ketika seluruh manusia di saat itu meminta kepada semua Rasul agar meminta kepada Allah syafa’at yang akan membebaskannya dari kedahsyatan hidup. Semua nabi di saat itu tidak sanggup untuk melakukan demikian. Lalu beliau -memberikan syafa’at kepada mereka dan dialah yang meminta agar dibukakan bagi mereka pintu surga.”

Mushthofa Al ‘Adawi dalam kitab beliau Fiqhul Akhlak 1/7 mengatakan:
“Dan telah terhimpun pada diri Rasulullah sifat-sifat yang terpuji seperti malu, dermawan, pemberani, berwibawa, sambutan yang baik, lemah lembut, memuliakan anak yatim, baik batinnya, jujur dalam ucapan, menjaga diri dari perkara yang mendatangkan maksiat, suci, bersih, suci dirinya dan segala sifat-sifat yang baik”.

Aisyah RA ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah, beliau menjawab:
“Akhlaknya adalah Al Qur’an.”
(HR. Muslim no. 746) *
* Inilah jawaban dari seorang shahabiyah yang faqih dan mengetahui secara jelas di hadapan matanya bagaimana Rasulullah berkata, berbuat, dan bertingkah laku, dikarenakan beliau adalah isteri Rasulullah. Jawaban yang sangat singkat dan mencakup segala perkara kebaikan di dalam agama ini.

Dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda,
"Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka."
(HR. Abu Dawud, Al-Libas, 3512. Al-Albany berkata dalam Shahih Abu Dawud, Hasan Shahih no. 3401)

Tidak diragukan lagi bahwa setiap bid’ah dalam agama adalah sesat dan haram, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara yang baru. Setiap perkara-perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”
(HR. Abu Dawud (no. 4607), at-Tirmidzi (no. 2676), Ahmad (IV/46-47) dan Ibnu Majah (no. 42, 43, 44), dari Sahabat Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu anhu, hasan shahih)

Barangsiapa yang mengada-ngada dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak”
(HR. Al-Bukhari (no. 2697) dan Muslim (no. 1718), dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma)

Ibnu ‘Umar Rdadhiyallahu anhuma berkata:
“Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun manusia memandangnya baik.
(Riwayat al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 126), Ibnu Baththah al-‘Ukbari dalam al-Ibaanah (no. 205). Lihat ‘Ilmu Ushuulil Bid’ah (hal. 92))
Imam Sufyan ats-Tsaury rahimahullah (wafat th. 161 H) berkata:
“Perbuatan bid’ah lebih dicintai oleh iblis daripada kemaksiyatan dan pelaku kemaksiyatan masih mungkin ia untuk bertaubat dari kemaksiyatannya sedangkan pelaku kebid’ahan sulit untuk bertaubat dari kebid’ahannya.
(Riwayat al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah (no. 238), Nama lengkap Imam Sufyan ats-Tsaury adalah Sufyan bin Sa’id bin Masruq ats-Tsauri, Abu ‘Ab-dillah al-Kufi, seorang hafizh yang tsiqah (terpercaya), faqih, ahli ibadah dan Imaamul hujjah. Beliau wafat tahun 161 H pada usia 64 tahun. Lihat biografi beliau dalam kitab Taqriibut Tahdziib (I/371))

Dalam kitab-kitabnya, Syekh Abdul Qadir Jailani senantiasa memperingatkan terhadap bid’ah-bid’ah dalam agama sekaligus menasihatkan agar senantiasa mengikuti sunah. Beliau menghubungkan nasihat-nasihatnya itu dengan tauhid dan pentingnya menjauhi kesyirikan.
Beliau berkata, “Ikutilah sunah dan jangan berbuat bid’ah. Taatilah Allah dan jangan melanggar larangan-larangan-Nya. Beribadahlah hanya kepada Allah dan jangan berbuat syirik.”
Beliau berujar di kesempatan lain, “Ikutilah sunah dan jangan berbuat bid’ah. Beribadahlah sesuai sunah dan jangan menyelisihinya. Taatilah dan jangan menentang, Beribadahlah hanya kepada Allah dan jangan berbuat syirik.”
(Al-Fath Ar-Rabbani, Al-Jailani, nasihat ke-47, hal: 151)

Beliau menjabarkan bahwa asas-asas kebaikan adalah hanya dengan mengikuti sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau mengatakan, “Asas-asas kebaikan hanyalah dengan mengikuti sunah Nabi n, baik perkataannya maupun perbuatannya.”
(Al-Ghaniyyah, Al-Jailani, 1/79)

Selanjutnya, beliau menerangkan bahwa sesuatu yang paling utama bagi seorang mukmin yang berakal adalah mengikuti sunah. Beliau menuturkan,
“Hal terpenting bagi seorang mukmin yang berakal lagi cerdas ialah agar mengikuti sunah dan tidak berbuat bid’ah; tidak mempersempit, mempersulit, apalagi memberat-beratkan diri, karena hal itu akan membuatnya tersesat, hancur, dan binasa.”
(HR. Muslim No. 1718)

Selain itu, Syekh Abdul Qadir Jailani juga menuturkan, “Wajib bagi seorang mukmin untuk mengikuti sunah dan jamaah. Sunah adalah apa-apa yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan jamaah adalah apa saja yang disepakati oleh para shahabat pada masa Khulafa’ Ar-Rasyidin.”
Kemudian, setelah beliau menyampaikan definisi Ahlussunnah wal Jamaah, beliau mengingatkan berkenaan dengan ahli bid’ah, beliau menuturkan, “Janganlah kalian bergaul dengan ahli bid’ah, jangan mendekati mereka, dan jangan memberi salam kepada mereka. Sebab, Imam Ahmad telah mengatakan, ‘Barangsiapa mengucapkan salam kepada ahli bid’ah, maka sungguh ia telah mencintainya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sebarkanlah salam di antara kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.’
(Al-Ghaniyyah, 1/80; Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, hal: 431)

Janganlah kalian bermajelis dengan mereka, jangan dekat-dekat dengan mereka, jangan mengucapkan selamat ketika hari raya maupun waktu-waktu bahagia kepada mereka, jangan menshalati mereka jika mereka mati, jangan hormati mereka ketika kalian menyebut tentang mereka, tapi jelaskan kepada mereka (kebidahan mereka), dan musuhi mereka karena Allah dengan mengharap pahala, ganjaran, dan balasan yang banyak dari hal tersebut.
(Al-Ghaniyyah, 1/80; Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, hal: 432)

Beliau mengatakan, “Ketahuilah, bahwa ahli bid’ah memilki ciri-ciri yang mereka dikenali melalui ciri-ciri tersebut. Ciri-ciri mereka adalah sebutan-sebutan mereka terhadap ahlul atsar (Ahlus Sunnah). Kaum Zindik menamai ahlul atsar dengan sebutan Al-Hasyusyiyah; kaum Qadariyah menyebut ahlul atsar dengan Mujbirah (Jabbariyah); kaum Jahmiyah menjuluki Ahlus Sunnah dengan Musyabbihah; dan kaum Rafidhah menyebut ahlul atsar dengan Nashibah. Semua itu hanyalah fanatisme dan kebencian mereka kepada Ahlus Sunnah.
Tidak ada panggilan bagi Ahlus Sunnah kecuali hanya satu panggilan, yaitu Ashhabul Hadits. Tidak akan melekat terhadap Ahlus Sunnah apa pun yang digelarkan oleh ahli bid’ah atas mereka, sebagaimana tidak melekatnya terhadap Nabi napa-apa yang disematkan oleh kaum kafir Mekah berupa penyihir, penyair, orang gila, pembuat fitnah, dan dukun. Tidak ada julukan bagi Rasulullah di sisi Allah, para malaikat, manusia, jin, dan seluruh makhluk melainkan hanya satu nama, yaitu Nabi dan Rasul yang terlepas dari celaan-celaan itu seluruhnya.”
(Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, hal: 477)


Penyunting:
Raja Copas Abu Jihad Muhammad al-Indunisiy
2017

Sumber:

Sesungguhnya Pada Diri Rasulullah Ada Teladan Yang Baik Bagimu

 https://www.kiblat.net/2017/03/16/ketika-syekh-abdul-qadir-jailani-berbicara-tentang-bidah/

Setiap Perkara Baru Yang Tidak Ada Sebelumnya Di Dalam Agama Adalah Bid’ah

Category: Pendidikan
Email Autoresponder indonesia
author
Seorang perjaka muda yang penuh dengan ambisi dan memiliki cita-cita menjadi seorang khilafah di muka bumi.
No Response

Leave a reply "APA ITU PERBUATAN BID’AH ?"