Hikmah Berlibur ke Gedung Putih

0 369
banner 468x60
banner 160x600

BCT-Bandung
Kala itu tanggal 10 Mei 2017, seorang gadis berjilbab bernama Zahra hendak berkunjung ke Rumah Sakit Salamun. Zahra berniat melihat ayah Rina (temannya) yang tengah dirawat disana. Kata Rina, ayahnya tiba-tiba terkena serangan jantung ketika melihat cucunya memukuli badannya sendiri saat dua hari yang lalu ayah cucunya meninggal.
Zahra berteman dengan Rina belum terlalu lama. Namun, entah kenapa Zahra merasa iba pada Rina. Mungkin karena Rina perempuan yang sangat baik, Zahra pun seolah ingin peduli kepadanya. Posisi Rina memang cukup berat. Kemarin kakak iparnya baru saja meninggal dunia, sekarang ayah kandungnya masuk rumah sakit.
Hari itu kebetulan Zahra libur kuliah. Teman-temannya menghabiskan waktu untuk jalan-jalan. Ada yang berlibur ke tempat rekreasi, taman, kolam renang, mall, pegunungan ataupun ke tempat lainnya. Tetapi tidak dengan Zahra, Zahra lebih memilih untuk ke rumah sakit, “Ayah Rina sedang sakit, aku sangat ingin menjenguknya. Ya, aku harus bisa menjenguknya,” tegas Zahra.
Zahra dijemput Rina dan diajak menginap, karena kebetulan Zahra tidak memiliki motor. Sesampainya di rumah sakit, kami pun bergegas ke mushala karena kami belum menunaikan shalat isya sementara jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.00bWIB.
Usai itu, kami mencari makan ke luar dan kembali ke ruangan dimana ayah Rina dirawat. Ayah Rina terlihat lemah terbaring di ranjang. Ayahnya Namun, beberapa detik kemudian ayah Rina bangun seolah menyambut Rina. Zahra malu-malu dan coba menyapa ayah Rina, “gimana kabarnya pak?”, namun ia tak menjawab. Entah karena suara Zahra yang kecil, entah karena kondisinya yang sedang sakit sehingga menyebabkan ia tak menjawab pertanyaan Zahra. Rina yang disamping Zahra pun diam, dan tidak merespon apa-apa sehingga niat Zahra yang tadinya ingin mengobrol dengan ayahnya pun gagal. Zahra terlihat sedikit bingung dan memutuskan untuk duduk di kursi yang tidak jauh dari ruangan itu. Lalu, Rina pun mempersilahkan Zahra untuk segera makan, karena Rina sudah makan duluan. Zahra pun menyantap makanan dengan lahap, maklum karena jam makannya memang sudah telat.
Malam semakin larut, hawa dingin mulai menghampiri. Angin masuk ke sela-sela jendela rumah sakit. Dengan berselimut jaket, Zahra duduk menonton tv di ruangan itu. Sebenarnya Zahra mengantuk, namun dia susah tidur. Zahra memperhatikan Rina.Wajahnya sudah tidak karuan dan matanya memerah. Mungkin dia pun mengantuk, namun ia tetap tidak tidur dan malah sibuk mengganti-ganti cannel tv. Sebenarnya Zahra ingin mengajak berbincang banyak dengan Rina, namun dia masih merasa segan,“Kasihan Rina, pulang kerja harus menjaga ayahnya. Pasti dia amat lelah,” gumamnya dalam hati.
Tidak lama kemudian, Zahra memutuskan untuk menutup wajahnya dengan jaket. Berharap dengan begitu, dia akan mudah tertidur. Namun, diam-diam ternyata Zahra mendengar obrolan Rina dengan seorang bapak-bapak yang juga duduk di kursi jaga ruangan itu.
“Aku terharu mendengar cerita mereka. Mereka berdua tengah diuji oleh Allah. Rina yang ayahnya tiba-tiba kena jantung akibat kaget kala cucunya tidak menerima kepergian ayahnya. Sementara bapak itu, yang tengah diajak Rina mengobrol, dia sedang menjaga anaknya yang terkena kanker darah. Oh, Allah..betapa aku bersyukur, karena masih diberikan kesehatan,” gumamnya dalam hati.
Itulah yang Zahra dengar dari mereka. Meskipun Zahra tidak berbincang langsung, Zahrah mendengarkan semuanya dan mengambil hikmah. Zahra benar-benar mencoba mengambil hikmah saat menginap di RS.Salamun kala itu.
*****

Dia belajar beberapa hal selama di gedung putih itu. Dia memperhatikan pasien-pasien yang tengah kesakitan, dia memperhatikan keluarga yang tengah menunggu tidak bisa tidur. Bahkan ia mengalaminya sendiri.
Apa yang Zahra pelajari kawan? Mari kita simak.
Pertama, aku belajar tentang UJIAN. Aku melihat mereka tengah diuji oleh Allah dari segi fisik/ jiwanya. Aku teringat firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 155 yang artinya: “dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”
Allah menguji jiwa mereka. Allah mencabut kesehatan mereka dan menempatkan rasa sakit pada jiwa mereka. Variansi penyakit menggrogoti tubuh mereka. Namun dibalik semua itu, ada tujuan Allah: Allah ingin tahu apakah kita sanggup menyikapi rasa sakit? Apakah kita akan sabar atas ujian tersebut? Sejatinya, ujian adalah peningkat kualitas keimanan. Kalau kita lulus dalam ujian, maka itu berarti keimanan kita tidak diragukan.
Kedua, aku belajar SYUKUR. Aku bersyukur tengah dalam keadaan sehat. Karena dengan sehat, kita bisa melakukan segala hal terutama dalam melakukan ketaatan beribadah kepada-Nya.
Ketiga, aku belajar SABAR. Aku belajar kesabaran dari keluarga pasien. Mereka sabar dan setia menemani pasien sampai sembuh. Menjaganya siang malam sampai benar-benar pulih dari sakitnya.
Keempat, aku belajar IKHTIAR. Ikhtiar para dokter yang berusaha menyembuhkan pasien. Berbagai perawatan mereka lakukan supaya pasiennya bisa sembuh.
Kelima, aku belajar UKHUWAH. Aku belajar ukhuwah dari keluarga, kerabat dan teman-teman pasien yang berkunjung. Mereka berkunjung, saling peduli dan menguatkan pihak yang tengah ditimpa sakit.
“Indahnya Islam yang mengajarkan semua itu. Itulah hikmah yang aku dapatkan di gedung putih itu. Semoga kita tergolong hamba yang selalu mengambil hikmah dalam setiap peristiwa-NYA. Allahumma Aamiin.”
*****
SEKIAN
Ini hanyalah tulisan seorang hamba yang faqir di hadapan-NYA, yang berusaha menggali hikmah dari setiap kejadian dalam hidupnya. Semoga bermanfaat.

#salam sejahtera untukmu
#Akhukum: Fika Fitria Syahroni

Category: Uncategorized
Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Hikmah Berlibur ke Gedung Putih"