Merawat Stilasi, Menjaga Semangat Bandung Lautan Api

banner 468x60
banner 160x600

BCT-Bandung Peristiwa Bandung Lautan Api pada 24 Maret 1946 telah menjadi  momen penting bagi rakyat Bandung mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Saat itu, warga Bandung memilih membakar rumahnya dibandingkan dijadikan markas militer sekutu.
Pengorbanan saat itu menunjukan warga Bandung rela berbuat apa pun demi bangsa dan tanah airnya.
Untuk memperingati Jejak-jejak peristiwa Bandung Lautan Api yang bersejarah tersebut, dibuatlah 10 stilasi. Pembuatan stilasi itu diinisiasi oleh Bandung Heritage yang bekerja sama dengan sejumlah pihak pada 1997. Tak hanya persitiwa Bandung Lautan Api, stilasi tersebut juga menunjukan tempat-tempat yang berkaitan dengan perjuangan merebut kemerdekaan.
Stilasi-stilasi tersebut di antaranya penanda tempat pertama kalinya pembacaan teks proklamasi oleh rakyat Bandung, lokasi persitiwa perobekan bendera Belanda maupun markas para pejuang Bandung Lautan Api.
Menjelang peringatan Bandung Lautan Api, Humas Setda Kota Bandung mencoba menelusuri 10 stilasi tersebut. Saat ini, kondisinya terawat dengan baik. Ornamen-ornamen yang ada di sejumlah staliasi juga terlihat bersih.
Dari 10 stilasi, hanya satu stilasi yang dirusak oleh tangan-tangan jahil yang merusak. Tepatnya di persimpangan jalan Lengkong Kecil dan Lengkong Dalam. Di stilasi ini, ada ornamen yang hilang.
Salah satu stilasi yang terawat dengan baik yaitu yang berada di SD ASMI. Menurut Keamanan Sekolah SD ASMI, Yaya Sunarya (54), tugu Bandung Lautan Api masih terawat dan tidak banyak tangan tangan jail yang ingin merusak tugu tersebut.
"Tugu di sini selalu terjaga, apalagi masuk di lingkungan sekolah pasti tugu ini di jaga baik baik oleh semua warga sekolah khususnya," kata Yaya ditemuinya di SD ASMI, Senin (19/3/2018).
Kondisi serupa juga bisa dijumpai di Jalan Jembatan baru yang merupakan salah satu garis pertahanan pejuang saat terjadi pertempuran Lengkong. Menurut salah warga sekitar, Iman (38) menuturkan tugu Bandung lautan api memang dijaga dengan baik. Hal itu karena warga juga menjagannya bersama-sama.
"Di sini kita jaga bersama-sama. Kita sama-sama tahu kalau itu (penanda, red) salah satu titik bersejarah," katanya.
Berikut 10 stilasi Bandung Lautan Api:
Stilasi 1 berada di kawasan Dago, tepatnya Jalan Ir H. Juanda - Sultan Agung. Stilasi berada di depan gedung bekas kantor berita Jepang, Domei yang sudah ada sejak tahun 1937. Menurut catatan sejarah, di kantor berita inilah untuk pertama kalinya teks proklamasi dibaca oleh rakyat Bandung. Kali ini bangunan tersebut sebagai Kantor Bank BTPN.
Beralih ke Jalan Braga, di daerah itu stilasi 2 berada. Tepatnya persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan terletak gedung Bank Jabar yang dahulu bernama Gedung Denis. Di gedung ini, pada Oktober 1945, pejuang Bandung Moeljono dan E. Karmas merobek bendera Belanda.
Lanjut, dari Jalan Braga menuju Jalan Asia Afrika. Di jalan ini tepatnya di Gedung Asuransi Jiwasraya yang merupakan stilasi ke 3 bisa ditemukan. Dahulu, gedung ini digunakan sebagai markas resimen 8 yang dibangun pada tahun 1922.
Stilasi 4 berada di sebuah rumah yang terletak di Jalan Simpang. Di tempat inilah dilakukan perumusan serta diambilnya keputusan pembumihangusan kota Bandung. Perintah untuk meninggalkan kota Bandung pun dikomandoi dari rumah ini. Rumah tersebut kini dijadikan tempat tinggal dan masih dalam bentuk aslinya.
Tidak cukup jauh menuju stilasi 5 yang berada di Jalan Oto Iskandardinata - Jalan Kautamaan Istri tepat kali ini depan SD Dewi Sartika. Di dari stilasi 5 menuju ke - 6 tidak jauh, letaknya pas di Jalan Ciguriang sebelah pusat perbelanjaan Yogya Karapitan.  Stilasi 6 terletak dalam sebuah rumah yang juga markas komando Divisi III Siliwangi pimpinan kol. A.H. Nasution.
Untuk mencapai stilasi 7 cukup jauh, dari Jalan Dewi Sartika menuju Lengkong sekitar 1,5 kilometer. Di persimpangan Jalan Lengkong Tengah dan Jalan Lengkong Dalam tepatnya belakang kampus Unpas, di sanalah stilasi 7 berdiri. Tempat ini merupakan tempat tinggal indo Belanda.
Lanjut stilasi ke 8 berada di Jalan Jembatan baru yang merupakan salah satu garis pertahanan pejuang saat terjadi pertempuran Lengkong.
Selepas dari Jalan Jembatan baru, kembali melewati jalan untuk menuju stilasi 9. Stilasi ini berada di SD ASMI, tepat Jalan Asmi. Bangunan utama gedung tidak banyak mengalami perubahan. Tempat ini digunakan sebagai markas pemuda pejuang, PESINDO dan BBRI sebelum terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api.
Dari Jalan Asmi menuju Jalan M. Toha sebagai jalur utama pengungsian. Stilasi 10 berada di depan sebuah gereja yang terletak di jalan ini. Gereja yang bernama Gloria, dahulunya merupakan gedung pemancar NIROM yang digunakan untuk menyebarluaskan proklamsi kemerdekaan ke seluruh Indonesia dan dunia. Di seberang stilasi inilah, di Taman Tegallega, sebuah tugu kokoh bernama tugu Bandung Lautan Api berdiri.

Category: Budpar, Opini, Pemerintah, Pendidikan, Peristiwa, Unik
Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Merawat Stilasi, Menjaga Semangat Bandung Lautan Api"