Pengamat Unpad: Nurul-Ruli Kuasai Debat Kedua

0 134
banner 468x60
banner 160x600

BCT-Bandung Pengamat politik Universitas Padjadjaran (Unpad), Firman Manan menilai debat kedua Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Bandung masih kurang greget. Sebab, ketiga pasangan calon belum mampu menjelaskan program secara nyata dan lebih rinci.
"Secara umum, debat berlangsung datar, normatif, tidak menyentuh hal-hal konkret‎," kata Firman lewat sambungan elektronik, Senin (16/4).
Meski begitu, Firman menilai pasangan calon nomor urut 1, Nurul Arifin dan Chairul Yaqin Hidayat tampil lebih baik. Salah satu indikatornya, yakni mampu memanfaatkan waktu secara maksimal dengan konten penyampaian yang efektif.
"Secara performa, dalam aspek komunikasi dan manajemen waktu, paslon Nurul-Ruli lebih unggul dibandingkan kedua paslon lain," lanjutnya.
Dari segi penguasaan konsep debat, Firman berpendapat ketiga pasangan tidak ada yang menonjol. Bahkan dia menilai program yang ditawarkan masih cenderung abstrak dan normatif, sehinggatidak memunculkan program-program yang tajam sebagai solusi dari permasalahan di Kota Bandung.
‎"Apa yang menjadi akar permasalahan tidak terelaborasi secara mendalam. Demikian pula dengan alternatif solusi, semua paslon cenderung tidak memberikan penjelasan yang komprehensif tentang tawaran agenda kebijakan konret untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang telah diidentifikasi," bebernya.
Menurut Firman, bahkan ketiga pasangan calon malah tampak memberikan konsep yang seragam. "Tidak pula terlihat diferensiasi yang tegas tentang tawaran program antara paslon yang satu dengan paslon yang lain," tegasnya.
Di mata Firman, hingga debat kedua ini seluruh pasangan calon masih belum tegas menyatakan posisinya, apakah sebagai suksesor dari wali kota sebelumnya atau justru menjadi sosok pembaharu di periode kepemimpinan 2018-2023.
"Posisi paslon juga tidak jelas, apakah menawarkan program dengan semangat perubahan atau melanjutkan program yang telah dijalankan oleh pemerintahan terdahulu," tandasnya.
‎Sementara itu, dari perspektif Antropolog Unpad, Budi Rajab menilai penampilan ‎pasangan calon Nuru-Ruli ini paling menonjol dalam debat kedua Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Bandung 2018. Pasalnya, pasangan nomor urut 1 tersebut paling lugas memberikan jawaban.
Kendati Ruli dinilai masih kurang fokus dalam memberikan jawaban, namun Budi melihat wakil yang diusung oleh Partai Demokrat itu justru sangat tenang berbicara di hadapan publik. Dia juga melihat solusi yang dipaparkan oleh Nurul - Ruli lebih tepat sasaran terhadap permasalahan yang diidentifiksi.
"Nurul geulis, bicara lugas dan konkret, tidak mutar-mutar, kayanya, dia sudah menguasai public speaking. Hanya Rully yang agak mutar-mutar, tidak to the point, meskipun lebih rileks dari Nurul‎," kata Budi lewat sambungan elektronik.
Lebih lanjut Budi juga menilai pasangan nomor urut 2, Yossi Irianto dan Aries Supriatna tampil saling melengkapi. Sikap tenang Yossi dilihatnya ditunjang oleh kemampuan berbicara Aries.
Hanya saja, Budi melihat pasangan Yossi - Aries ini terlalu banyak retorika. Namun, sambung dia, substansi pemaparan ataupun saat menjawab pertanyaan kurang tegas, sehingga tidak mudah dicerna oleh masyarakat.
"Tapi Yosi yang lebih tenang dan sistematis, dan didukung oleh Aries. Juga Yosi penuh dengan slogan, mereka hanya memainkan kata-kata," ujarnya.
Sementra itu, Budi melihat penampilan pasangan Oded M‎uhammad Danial dengan Yana Mulyana menjadi yang paling buruk. Menurutnya ketika memberikan jawaban, penuturan pasangan nomor urut 3 ini tidak selaras dengan pertanyaan yang diajukan.
"Hanya Oded pang gorengna, yang dibicarakan tidak ada isinya dan tidak bisa menangkap pertanyaan,"‎ cetusnya.
Budi pun secara keseluruhan menyebutkan pasangan Nurul - Ruli yang paling menguasai di debat kedua Pilwalkot Bandung 2018 ini. ‎"Nurul - Ruli yang bicara to the point secara umum," pungkasnya

Kuasai Debat Kedua

Pengamat politik Universitas Padjadjaran (Unpad), Firman Manan menilai debat kedua Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Bandung masih kurang greget. Sebab, ketiga pasangan calon belum mampu menjelaskan program secara nyata dan lebih rinci.
"Secara umum, debat berlangsung datar, normatif, tidak menyentuh hal-hal konkret‎," kata Firman lewat sambungan elektronik, Senin (16/4).
Meski begitu, Firman menilai pasangan calon nomor urut 1, Nurul Arifin dan Chairul Yaqin Hidayat tampil lebih baik. Salah satu indikatornya, yakni mampu memanfaatkan waktu secara maksimal dengan konten penyampaian yang efektif.
"Secara performa, dalam aspek komunikasi dan manajemen waktu, paslon Nurul-Ruli lebih unggul dibandingkan kedua paslon lain," lanjutnya.
Dari segi penguasaan konsep debat, Firman berpendapat ketiga pasangan tidak ada yang menonjol. Bahkan dia menilai program yang ditawarkan masih cenderung abstrak dan normatif, sehinggatidak memunculkan program-program yang tajam sebagai solusi dari permasalahan di Kota Bandung.
‎"Apa yang menjadi akar permasalahan tidak terelaborasi secara mendalam. Demikian pula dengan alternatif solusi, semua paslon cenderung tidak memberikan penjelasan yang komprehensif tentang tawaran agenda kebijakan konret untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang telah diidentifikasi," bebernya.
Menurut Firman, bahkan ketiga pasangan calon malah tampak memberikan konsep yang seragam. "Tidak pula terlihat diferensiasi yang tegas tentang tawaran program antara paslon yang satu dengan paslon yang lain," tegasnya.
Di mata Firman, hingga debat kedua ini seluruh pasangan calon masih belum tegas menyatakan posisinya, apakah sebagai suksesor dari wali kota sebelumnya atau justru menjadi sosok pembaharu di periode kepemimpinan 2018-2023.
"Posisi paslon juga tidak jelas, apakah menawarkan program dengan semangat perubahan atau melanjutkan program yang telah dijalankan oleh pemerintahan terdahulu," tandasnya.
‎Sementara itu, dari perspektif Antropolog Unpad, Budi Rajab menilai penampilan ‎pasangan calon Nuru-Ruli ini paling menonjol dalam debat kedua Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Bandung 2018. Pasalnya, pasangan nomor urut 1 tersebut paling lugas memberikan jawaban.
Kendati Ruli dinilai masih kurang fokus dalam memberikan jawaban, namun Budi melihat wakil yang diusung oleh Partai Demokrat itu justru sangat tenang berbicara di hadapan publik. Dia juga melihat solusi yang dipaparkan oleh Nurul - Ruli lebih tepat sasaran terhadap permasalahan yang diidentifiksi.
"Nurul geulis, bicara lugas dan konkret, tidak mutar-mutar, kayanya, dia sudah menguasai public speaking. Hanya Rully yang agak mutar-mutar, tidak to the point, meskipun lebih rileks dari Nurul‎," kata Budi lewat sambungan elektronik.
Lebih lanjut Budi juga menilai pasangan nomor urut 2, Yossi Irianto dan Aries Supriatna tampil saling melengkapi. Sikap tenang Yossi dilihatnya ditunjang oleh kemampuan berbicara Aries.
Hanya saja, Budi melihat pasangan Yossi - Aries ini terlalu banyak retorika. Namun, sambung dia, substansi pemaparan ataupun saat menjawab pertanyaan kurang tegas, sehingga tidak mudah dicerna oleh masyarakat.
"Tapi Yosi yang lebih tenang dan sistematis, dan didukung oleh Aries. Juga Yosi penuh dengan slogan, mereka hanya memainkan kata-kata," ujarnya.
Sementra itu, Budi melihat penampilan pasangan Oded M‎uhammad Danial dengan Yana Mulyana menjadi yang paling buruk. Menurutnya ketika memberikan jawaban, penuturan pasangan nomor urut 3 ini tidak selaras dengan pertanyaan yang diajukan.
"Hanya Oded pang gorengna, yang dibicarakan tidak ada isinya dan tidak bisa menangkap pertanyaan,"‎ cetusnya.
Budi pun secara keseluruhan menyebutkan pasangan Nurul - Ruli yang paling menguasai di debat kedua Pilwalkot Bandung 2018 ini. ‎"Nurul - Ruli yang bicara to the point secara umum," pungkasnya

Category: Opini, Pemerintah, Peristiwa, Politik
Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Pengamat Unpad: Nurul-Ruli Kuasai Debat Kedua"